This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Senin, 25 Februari 2013
Gadis yang Ingin Menjadi Kunang Kunang
Teks Drama
Sedari tadi tangan gadis kecil itu menghempas-hempas gundukan tanah merah di hadapannya. Angin kering bertiup agak kencang membuat batang-batang bambu berderak-derak. Sementara daun-daun yang saling menggesek melahirkan irama yang ritmis. Wajah mungilnya nampak selusuh kaos “Dora Ihe Explorer yang ia kenakan”. Rambut kemerahannya melambai-Iambai dikibarkan angin. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya kilau kristal yang kian menderas
berleleran dari mata kecilnya yang sembab. Sesekali saja tangannya yang berlepotan tanah menyeka airmata.
Salifah, gadis sepuluh tahun ini, sesungguhnya tak mengerti apa-apa. Sepulang bermain, tampak oIehnya orang-orang berkerumun di tempat kontrakan. Didapatinya lelaki yang sangat ia kenai terbaring tenang di tempat tidur, dikelilingi
beberapa orang berwajah layu.
Dia terlalu kecil untuk mengerti sebuah rona kehidupan. Dunianya hanya dunia kanak-kanak yang ingin selalu dipenuhi kasih sayang. Tapi orang yang akan sepenuhnya mencurahkan kasih sayang padanya kini sudah terkubur dalam gundukan tanah di hadapannya. Kini, gadis mungil ini telah menjadi yatim-piatu, hidup sebatang kara tanpa kasih sayang orangtua.
Perempuan muda berkerudung hitam yang berdiri di sudut dekat pohon kamboja juga tak mengeluarkan suara. Hanya isak tertahan. Dibiarkannya si gadis kecil menangis sepuas hati, bila itu bisa jadi obat bagi sebuah kehilangan.
Di antara semerbak harum kemboja, mungkin memang harus ada tangis kehilangan yang mengingatkan pada wangi kematian. Tentang senyap dan ayat-ayat yang dilantunkan peziarah di ujung sana.
Perempuan muda yang beraura keibuan itu menatap iba pada keadaan Salifah. Tempat tinggal pun ia sudah tak punya. Dia ingat akan kebaikan-kebaikan ayah Salifah pada keluarganya. Meski cuma seorang supir angkot, suami dari kakak kandungnya itu mampu mencukupi bahkan membahagiakan gadis kecilnya, Salifah.
Tiba-tiba kilat berkeretap disusul suara gemuruh di langit. Awan menghitam. Diusap-usapnya bahu Salifah yang berirama turun-naik mengikuti sedunya.
Ningsih :
"Sayang, ayo pulang. Sebentar lagi hujan (dengan suara lembut, hampir tak terdengar
Salifah :
"lpah enggak mau pulang, Ipah enggak punya lumah lagi. lpah mau sama ayah." (dengan sela isaknya dan lidahnya yang tak bisa menyebut huruf “r”.)
Nikmah :
"Sayang, sebenlar lagi hujan lebat. Kita pulang ke rumah Bibi, ya?"
Solifah mengusap airmata, bangkit dibopong bibinya melangkah meninggalkan tanah perkuburan.
************
ternyata dugaannya salah. Dia mengira Salifah akan
berlarut-larut dalam kesedihan dan menjadi gadis pemurung. Tapi nyatanya belum
genap satu minggu dia sudah bisa melupakan ayahnya. Perempuan muda bernama
Ningsih iIu begitu lega melihat Salifah sudah mau berbaur dengan teman-teman maiinnya.
Diintipnya dari jendela kaca. Dia senang melihat kelincahan Salifah. Di halaman
rumah juga ada Umaira, anak kandungnya yang berumur tiga tahun lebih tua dari Salifah.
Keduanya seperti kakak-beradik.
Ketika dia akan melangkah ke dapur, suaminya tiba liba
duduk di hadapannya.
Suami Ningsih: "Ning, apa tidak lebih baik
kita titipkan saja anak itu di panti. Tentu dia senang karena di sana akan
lebih banyak kawan-kawan yang senasib dengannya."
Ningsih :
"Dititipkan di panti? Apa kita sebegitu tak mampu hingga tak bisa menampungnya
lagi?"
Suami Ningsih:"Mau kita beri makan pake apa?
Kau tau sendiri, gaji bulananku tak mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari hari
kita. Apalagi ditambah satu orang. Biaya hidup itu tidak rnurah."
Ningsih :"Astaga,
teganya Mas berkata begitu. Salifah itu anak dari kakak kandung saya, bearti dia
juga anak saya, tanggungjawab saya. Jika Mas keberatan, saya yang akan berusaha."
Suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai satpom
sekolah itu merasa kalah. Dia ngeloyor pergi tanpa bilang apa-apa lagi. Sementara,
Ningsih masih terpaku di tempat duduknya. Tatapannya kosong. Dia tak habis pikir
suaminya bisa berpikiran seperti itu. Meski selama ini hidup mereka jauh dari
berkecukupan, tapi bagaimanapun dia tak mungkin membiarkan salifahnya dipantikan.
Tiba tiba…
Salifah :
"Bibi ngelamun?" (dengan tiba tiba)
Ningsih :"Engg
... gak .. (agak tergagap). "Kok lpah enggak main sama kawan-kawannya?"
Salifah :"lpah
cuma mau tanya, boleh enggak lpah punya kunang-kunang?”
Ningsih :"Boleh.
Tapi syaratnya lpah harus panggil Bibi dengan sebutan Bunda.”
Salifah :
"Ya Bu ... Bunda," (sambil senyum lebar memperlihatkan gigi kecilnya
yang kecoklotan, agak kaku karena kata itu begitu asing baginya.
Salifah memang tak sempat bertemu dengan perempuan
yang telah melahirkannya. Sejak kecil dia tak pernah bertanya-tanya mengenai
ibunya yang konon telah meninggal saat melahirkannya.
Ningsih :
"Kenapa Ipah pengen punya kunang-kunang?”
Salifah :
“Karena kunang-kunang punya lampu. Dulu ayah sering kasih Ipah kunang-kunang
yang dimasukkan dalam toples. Tiap malam kunang-kunang jadi lampu di kamar lpah,
jadi temen waktu tidul."
Hatinya terenyuh. Dia
baru sadar bahwa ayah Ipah selama ini lebih mementingkan membantu orang
lain daripada kebutuhannya sendiri. Sebuah lampu pun mereka tak punya. Pantas saja
tempat kontrakan mereka selalu terlihat gelap ketika malam hari.
Namun gadis semanis Salifah tak pernah menuntut apa-apa
dari ayahnya. Dia bisa menerima hidup apa adanya. Dia bahagia dan menganggap
kunang-kunang sebagai pelita di tempatnya.
Ningsih :
“Nanti malam kita cari kunang-kunang, ya."
Salifah :
"Holee ...”
Ningsih :
"Ayo main lagi sana sama Kak Umaira."
************
Namun waktu malam itu. Tak seekor kunang kunang pun
mereka dapatkan. Ningsih merasa kasihan pada Salifah karena satu-satunya
keinginannya tak bisa terpenuhi. Mereka bertiga sudah berusaha berburu kunang-kunang.
Namun sia-sia. Jika saja ada sebuah toko yang menjual kunang-kunang, tentu dia akan
membelikannya untuk Salifah.
Malam itu Salifah tak bisa tidur. Ia hanya memandangi
langit-Iangit kamar sambil terus berkhayal tentang kunang - kunang.
Salifah :
"Kak Umaira, orang yang sudah meninggal bisa jadi kunang-kunang, ya?"
Umaira :
“Bisa. Orang yang sudah meninggal bisa jadi apa saja yang dia mau, termasuk
jadi kunang-kunang."
Salifah :
"Jadi, ayah Ipah bisa jadi kunang-kunang?"
Umaira :
“lya, ayah Ipah bisa jadi apa saja. Kalau besar nanti Ipah juga bisa jadi apa
saja yang Ipah mau, asal rajin belajar.”
Salifah :
“Kalau enggak lajin belajal, enggak bisa ya, Kak?"
Umaira :
"lya. cuma orang pintar yang bisa."
Salifah :
"Ipah nanti mau lajin belajal bial pintal, bial bisa jadi kunang-kunang."
Umaira :
"Ya sudah, ayo kita tidur."
Umaira mengakhiri pembicaraan sambil memeluk
gulingnya erat.
Sementara, Salifah tak bisa memejamkan mata. Dia bangkit
menuju dapur mengambil air minum. Cahaya lampu dari ruang tengah cukup untuk
menerangi langkahnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang berkelapkelip
di bowoh meja makan. Dia kenal benda itu. Bukan benda, tapi kunang-kunang. Hatinya
bersorak. Perlahan dia merangkak ke bawah meja makan, diletakkannya kunang-kunang di telapak
tangannya. Dia pandangi terus lampu kuning kehijauan pada bagian perut kunang-kunang,
mengingatkannya pada sosok ayah. Dia merasa senang karena bertemu ayah. Kata Kak
Umaira, ayah bisa jadi kunang-kunang
************
Ningsih :
“Astaga, kenapa Ipah tidur di bawah meja makan? Bangun, Ipah ... , nanti Ipah sakit
kalau tidur di lantai."
Salifah :
"Kunang-kunang ... Mana kunang-kunang? Bunda lihat kunang-kunang Ipah?"
Ningsih :
"Kunang-kunang?"
Salifah : "lya, tadi malam Ipah lihat kunang-kunang di bawah meja makan, Ipah tidul sama kunang-kunang. Tapi mana kunang
kunangnya?"
Ningsih :
"Mungkin kunang-kunangnya sudah pergi, Sayang. Nanti malam juga balik lagi. Sini.
Ipah mandi dulu."
Salifah :
"Enggak mau. Ipah mau kunang-kunang."
Ningsih :
"Ya, Sayang, nanti Bunda cari kunang-kunang Ipah. Sekarang mandi dulu, ya?"
(sambil memberi kecupan hangat di pipi Salifah)
************
Kemudian saat akan berangkat sekolah.
Salifah :
"Bunda, Ipah bisa jadi kunang-kunang?"
Ningsih :
( diam sejenak, mengerti akan imajinasi liar Salifah.) "Kenapa Ipah pengen
jadi kunang-kunang?"
Salifah :
"lpah pengen punya sayap dan lampu sepelti kunang-kunang. Kata Kak
Umaira, ayah bisa jadi kunang-kunang. Ipah pengen terbang sama ayah."
Ningsih :
"Ipah bisa jadi kunang-kunang kalau sudah gede nanti."
Salifah :
"Kenapa nunggu gede, Bunda? Buktinya Bunda enggak bisa jadi kunang"
Ningsih : "Karena
Bunda enggak mau jadi kunang-kunang."
Salifah : "Kenapa Bunda enggak mau jadi kunang-kunang?"
Ningsih : "Karena
Bunda harus kerja. Jadi kunang-kunang butuh banyak energi untuk bisa terbang dan
bisa menyalakan lampu. Sini, Bunda pakaikan sepatunya. Berangkat bareng sama Kak
Umaira ya?”
************
Ningsih : "Salifah
... Salifah .... Ke mana Salifah, jam segini belum pulang." (sambil mencari
kesana-kemari.) "Apa Mas lihat Salifah pulang sekalah tadi?"
Suami ningsih: "Enggak, memang anak itu selalu saja bikin susah. Aneh-aneh
saja yang dikhayalkannya," (dengan nada tidak suka.)
Ningsih : (Tiba-tiba
punya firasat tak enak dan takut jika terjadi sesuatu dengan salifah)
************
Kemudian Ketika Umaira pulang dari sekolah
Ningsih : "Umaira, kenapa kamu tidak pulang bareng adikmu?"
Umaira : "Maaf,
Bun. Umaira kira Salifah sudah pulang."
Ningsih : …. (bingung)
Ketika hari mulai gelap, mereka masih mencari Salifah. Mereka bertanya pada
setiap tetangga yang mungkin melihatnya. Salah seorang bilang melihat Salifah
berjalan ke arah taman. Kegelisahan mulai menghinggapi seluruh tubuhnya. Mereka
berjalan cepat ke arah taman.
Taman yang orang-orang maksud adalah kebun yang kurang perawatan. Banyak
bunga-bunga, namun tumbuh tak beraturan. Mereko memasuki taman dengan tergesa,
berteriak-teriak memanggil Salifah. Namun masih belum ada jawaban. Mereka harus
mencari ke seluruh sudut taman, tak boleh terlewatkan. Bisa saja Salifah
tertidur di bawah taman bersama
kunang-kunangnya.
Deru napas mereka terengah-engah. Tiba-tiba mereka mendengar tangisan Salifah. Cepat-cepat mereka menuju sumber suara. Tampak Salifah sedang duduk
memeluk kedua lututnya di atas batu besar.
Ningsih : "Astaga
lpah, kenapa kamu di situ? Ayo turun sayang, nanti lpah jatuh."
Umaira : "lpah jangan
di situ. Bahaya. lpah turun dulu, baru nanti bisa jadi kunang-kunang." (sambil
membujuk salifah)
Salifah : "Enggak
mau, Ipah mau jadi kunang-kunang bial bisa ketemu ayah."
Ningsih : "Iya, lpah
bisa ketemu ayah, asal Ipah turun dulu."
Salifah : "Pokoknya
Ipah mau jadi kunang-kunang sekalang. ltu di langit banyak kunang-kunangnya, lpah
mau telbang ke sana”
Ningsih : "jangan, Sayang. Ayah enggak ada di sana.
Salifah : “Ayah ... ."
(sambil mengepakkan tangan
seolah akan mengepakkan sayap. “
Ningsih sudah sampai di tangga-tangga batu, namun Salifah sudah mengepakkan
sayap kecilnya dan meluncur di udara. Dalam hitungan sekejap, beribu kunang-kunang
berhamburan memenuhi angkasa. Lompu kunang-kunang itu ada yang berkelap-kelip,
ada yang terus menyala. Salifah menjadi kunang-kunang, terbang bersama di antara
denyut malam





















